Rabu, 16 Oktober 2013

Bingung Kewarganegaraan

Di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, kini semakin populer dengan perkawinan campuran. Hal tersebut dianggap masyarakat khususnya Indonesia sebagai suatu hal yang ngetren atau menarik. Baik di kalangan selebritis maupun masyarakat biasa. Di era globalisasi yang semakin maju ini, jarak sudah tidak menjadi halangan untuk berinteraksi antar kota bahkan antar negara. Didukung dengan kemajuan teknologi seperti status sosial facebook, twitter, dan masih banyak lagi masyarakat dapat berkomunikasi jarak jauh tanpa harus bertatap muka langsung. Hal ini mendukung terjadinya perkawinan campuran antara warga negara Indonesia dengan warga negara asing. Menurut orang Indonesia, orang asing baik laki-laki maupun perempuan itu lebih menarik dibanding dengan laki-laki maupun Indonesia asli, begitupun sebaliknya. selain itu dalam anggapan masyarakat jika seseorang menikah dengan orang berbeda kebangsaan merupakan kebanggaan. contoh pernikahana campuran yang terjadi khusunya dikalangan artis yaitu kita sebut salah satu artis terkenal yaitu Cinta Laura Kiehl. Artis blesteran Indonesia Jerman ini terlahir dari seorang ibu yang bernama Herdiana Kiehl yang berkewarganegaraan Indonesia sedang ayahnya, Michael Kiehl berkewarganegaraan Jerman. Di sini status sosial Cinta Laura Kiehl dipertanyakan.
Cinta yang ketika itu berusia 17 tahun belum dituntut untuk memilih kewarganegaraannya. Ia boleh mengikuti kewarganegaraan ayahnya jerman maupun ibunya Indonesia. Namun pada usinya yang 21 tahun nanti, Cinta diharuskan memilih status kewarganegaraannya. Untuk mempermudah dirinya berkarir di kanca internasional, Cinta lebih memilih untuk berkewarganegaraan Jerman mengikuti ayahnya. Namun karena prestasinya di luar negeri dan telah mengharumkan nama Indonesia, pemerintah memberikan status kewarganegaraan ganda kepada cinta. Tentu hal itu akan mempermudah Cinta untuk berkarir baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Ternyata perkawinan campuran tidak hanya berdampak negatif bagi anak karena membingungkan ia untuk memilih status kewarganegaraannya, tapi juga memberikan manfaat yaitu dapat mempermudah dalam berkarir di dunia internasional. 

Minggu, 06 Oktober 2013

Agama dan Negara

Islam Identik Dengan Terorisme ???



Terorisme...
Kata yang satu ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan terorisme saat ini ramai diperbincangkan di berbagai belahan dunia. Berbagai aksi-aksi teror telah mereka lakukan. Pembunuhan, pembakaran, pengeboman dan aksi-aksi lainnya yang sangat memprihatinkan. Tragedi 11 September World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, tragedi Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005 , JW. Marriot dan Ritz Carlton di Kuningan, Jakarta. Tragedi-tragedi  tersebut tidak lepas dari aksi terorisme.
Yang paling belum saya mengerti adalah mengapa mereka mengatas namakan agama. Khususnya agama islam. Bukankah Islam, agama yang dibawa Rasullullah agar menjadi  rahmatal lil’alamin (pembawa rahmat bagi seluruh alam).
Mereka beranggapan bahwa memerangi orang kafir merupakan jihad fi sabilillah. Tapi jika  tidak sesuai dengan ajaran islam masih bisakah dianggap jihad. Seperti tragedi pengeboman di hotel JW. Marriot, Jakarta Selatan, apakah yang berada di hotel tersebut hanya orang kafir saja. Pada kenyataannya jauh dari itu. Ribuan nyawa manusia yang tidak berdosa dan orang-orang muslim melayang akibat ulah mereka.
Berbagai faktor melatarbelakangi aksi terorisme, misalnya lemahnya pemahaman tentang agama, ketidakpuasan terhadap pemerintahan, dan masih banyak lagi.
Berbagai cara mereka lakukan untuk membuat kader-kader calon pengantin. Mereka yang menjadi calon pengantin di cuci otaknya dan didoktrin bahwa yang mereka lakukan merupakan jihad membela agama Allah dan balasannya adalah surga. Sehingga mereka mau menjadi pelaku teror bahkan menjadi pelaku bom bunuh diri. Sejatinya para pelaku teror bukanlah mereka yang bodoh dan awam akan agama, tapi mereka yang memandang agama dengan kolot.
Akibat dari aksi-aksi teror tersebut membuat resah dan takut pada masyarakat. Sedangkan pemerintah tidak mampu melindungi dan memberi rasa aman kepada rakyatnya. Sehingga stabilitas negara terganggu.
Melihat aksi terorisme memang sungguh memprihatinkan. Kita sebagai kaum muslim harus lebih memperdalam pengtahuan kita tentang islam. Dan semoga Allah SWT selalu menujukkan kita jalan yang lurus....Amin Ya Rabbal’alamin ^_^

Kamis, 03 Oktober 2013

Kebangsaan


EMPAT PILAR KEBANGSAAN DALAM SUDUT PANDANG PENDIDIKAN




Semua pelajar berpendidikan, semua yang berpendidikan berpengetahuan, semua yang berpengetahuan dapat memahami Empat Pilar Bangsa Indonesia. 

Terlebih dahulu kita mulai dari mengenal kata “Pilar”, pilar adalah tiang penguat atau penyangga, sehingga yang dimaksud dengan empat pilar kebangsaan, artinya ada empat tiang penguat atau penyangga yang sama sama kuat, untuk menjaga keutuhan berkehidupan kebangsaan Indonesia. 4 penyangga yang menjadi panutan dalam keutuhan bangsa indonesia yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Empat pilar kebangsaan yang dikampanyekan untuk menumbuhkan kembali kesadaran cinta tanah air untuk seluruh rakyat Indonesia.

Para pembaca, suatu negara itu akan maju bila semuanya dimulai dengan pendidikan. Sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Ibu Raden Ajeng Kartini “bila suatu bangsa ingin maju, maka semuanya harus dimulai dengan pendidikan”. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan merupakan sesuatu yang efektif untuk dijadikan mediasi memahamkan masyarakat Negara Indonesia tentang Empat Pilar Bangsa. Ibarat kata masyarakat itu berada disuatu ujung, sedangkan Empat Pilar Bangsa di ujung lainnya, maka kedua hal tersebut dapat dipertemukan dengan suatu alat yang menjembati kedua ujung tersebut, yaitu pendidikan.

Guna mengaplikasi pendidikan sebagai mediasi bagi Empat Pilar Bangsa, maka harus sinergi antara pendidikan  di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebagai contoh peristiwa teroris pemboman di belahan daerah Indonesia yang mana pendidikan masyarakat itu diabaikan oleh masyarakat sekitar, sehingga penyimpangan perilaku para calon pengebom itu tidak dapat ditanggulangi oleh masyarakat sekitar dan akhirnya pengeboman itu berhasil dilakukan oleh mereka walaupun nyawa mereka juga ikut melayang. Dan perusakan pemukiman warga yang beraliran syi’ah di Sampang, Madura oleh warga sekitar yang beraliran syuni yang merupakan aliran mayoritas di daerah tersebut. Hal ini dikarenakan ketidak sinergian antara pendidikan di rumah, sekolah, dan masyarakat.