Sabtu, 21 Desember 2013

Civil Society


Kesadaran Akan Perbedaan
Dengan beribu gugus kepulauan, beraneka ragam kekayaan, serta keunikan kebudayaan menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara yang kaya, baik dari segi sumber daya alamnya maupun sumber daya sosialnya. Tercatat sekitar 300 suku bangsa terdapat di Indonesia dengan bahasa, ras, adat istidat, dan agama yang berbeda-beda. Namun hal itu tidak menghalangi, bahkan membanggakan bangsa Indonesia. Karena meskipun terjadi kemajemukan yang sangat tinggi namun masyarakat Indonesia masih memegang rasa persatuan. Hal ini didasarkan pada lambang bangsa Indonesia yaitu pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Keragaman ini bisa menjadi salah satu faktor pendorong kemajuan karena antara budaya yang satu dengan budaya yang lain saling melengkapi dan memperkaya. Meskipun dengan semboyan demikian, bukan berarti di dalam masyarakat Indonesia bebas terjadi gejolak-gejolak yang mengarah pada perpecahan dalam segala bidang. Konflik yang berkaitan langsung dengan SARA (Suku, Adat, Ras, dan Antaretnis) sangat potensial terjadi di Indonesia kapan saja. Misalnya saja kerusahan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah. Kerusuhan tersebut dilatar belakangi oleh agama, etnis, dan golongan. Dalam kerusuhan tersebut terjadilah saling serang antara desa Nasrani dengan desa Islam. Ada yang mengatakan bahwa konflik itu terjadi diawali terjadinya pertikaian antara pemuda muslim dengan pemuda nasrani. Ada pula yang mengatakan bukan karena agama tetapi masalah ketidakadilan. Misalnya dalam pemilihan Bupati. Menurut mereka seharusnya jika yang terpilih menjadi Bupati adalah seorang nasrani maka wakilnya harus seorang muslim ataupun sebaliknya. Namun pada kenyataannya tidak. Pemenang mengambil semua kekuasaan. Sehingga masyarakat yang kalah merasa mendapat ketidakadilan. Selain itu ada yang mengatakan bahwa akar masalah dari kerusuhan poso adalah justru terletak karena adanya kesenjangan pendapatan antara penduduk asli Poso dengan kaum pendatang seperti Bugis, Jawa, dan Gorontalo. Akibatnya masyarakat yang merasa tidak mendapatkan ketidakadilan tadi, mereka melancarkan aksi-aksinya sebagai bentuk protesnya. Berbagai aksi protes mereka lancarkan, seperti Pembacokan Ahmad yahya oleh Roy tuntuh Bisalembah didalam masjid pesantren Darusalam pada bulan ramadhan, Pemusnahan dan pengusiran terhadap suku – suku pendatang seperti bugis, jawa, dan gorontalo, pemaksaan agama kristen kepada masyarakat muslim di daerah pedalaman, penyerangan kelompok merah dengan bersandikan simbol – simbol perjuangan ke agamaan kristiani, pembakaran rumah – rumah penduduk muslim oleh kelompok merah yang akhirnya malah terjadi saling bakar rumah, terjadi pembakaran rumah ibadah gereja dan masjid, bahkan sarana pendidikan ke dua belah pihak. Kerusuhan yang terjadi di Poso ini menimbulkan dampak sosial yang cukup besar. Selain kehilangan nyawa dan harta benda, juga memberikan daampak psikologis.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat sangat penting adanya kesadaran akan kesatuan di dalam keanekaragaman yang ada sehingga akan terwujud kehidupan bermasyarakat yang tentram dan harmonis.
Negara Indonesia merupakan negara yang multikultural dengan keanekaragaman penduduknya. Keberagaman budaya ini berakibat pada dua sisi. Pertama, apabila keragaman tersebut dikelola dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi bangsa Indonesia. Tetapi sebaliknya, jika tidak ditangani dengan baik akan berpotensi menjadi konflik yang berujung perpecahan. Namun hal yang lebih penting adalah sebagaimana kita, sebagai bangsa Indonesia, menyikapi semua hal tersebut agar bisa tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman budaya yang unik dan indah.

Good Governance


Pentingnya keterbukaan dalam penyelenggaran negara
Salah satu wujud terciptanya negara yang baik adalah adanya transparansi antara pemerintah dengan rakyatnya dalam proses penyelenggaraan negara tersebut. Sehingga akan terwujud hubungan yang harmonis antara pemerintahan dengan masyarakatnya. Pemerintah dituntut untuk lebih terbuka terhadap kebijakan-kebijakan yang diselenggarakannya. Hal tersebut bertujuan agar rakyat bisa ikut berpartisipasi dalam mengambil peran terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Salain itu keterbukaan dalam penyelenggaraan negara diharapkan dapat mengurangi adanya penyelewengan-penyelewengan kekuasaan oleh pejabat pemerintahan. Korupsi merupakan salah satu akibat dari adanya sistem pemerintahan yang kurang adanya keterbukaan dalam penyelenggaran negara. Pejabat-pejabat negara yang berusaha memperkaya diri dengan menggunakan kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka. Menggunakan anggaran-anggaran negara hanya untuk kepentingan pribadi. Tentu hal ini sangat merugikan negara khususnya berdampak pada sektor ekonomi. Seperti pada bait sebuah lagu  “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Seperti itulah kehidupan masyarakat indonesia sekarang. Perekonomian yang tidak merata dan terjadi kesenjangan sosial yang semakin mencolok. Akibat dari fakta tersebut kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan semakin terkikis. Korupsi di negara kita ini memang semakin tumbuh subur. Bahkan tidak hanya pada lingkungan pemerintahan saja. Dalam pembangunan daerah pun tidak lepas dari yang namanya korupsi. Saya mengambil contoh dalam pembangunan jalan di daerah saya Kwangsan. Karena musim hujan dan keadaan jalan yang tinggihnya lebih rendah dibandingkan pemukiman warga, menyebabkan jalan di daerah rumah saya sering mengalami kerusakan. Hal itu sudah tentu sangat meresahkan warga. Karena jalan yang berlubang sering mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Apalagi ketika musim hujan. Jalan yang berlubang tergenangi oleh air sehingga pengguna jalan tidak dapat menghindarinya. Kejadian tersebut berlangsung lama. Awalnya masyarakat hanya diam melihat keadaan tersebut. Namun karena terlalu lama menunggu tak ada kebijakan dari pemerintah setempat, akhirnya wargapun mengadu. Tapi pengaduan tersebut tidak juga ditanggapi hingga berlangsung lama hingga keadaan jalan semakin parah. Kesabaran wargapun mungkin sudah mulai habis. Sehingga saat itu warga bersatu padu melakukan protesnya dengan melakukan pemblokan jalan. Berbagai aksi protes mereka lakukan. Seperti memasang spanduk yang berisi cemoohan terhadap pejabat-pejabat desa, meletakkan pohon pisang dan pohon mangga ditengah jalan agar jalan yang rusak tersebut tidak bisa digunakan, dan masih banyak aksi-aksi masyarakat agar tuntutan mereka digubris. Setelah beberapa kali masyarakat melakukan aksi protesnya, akhirnya kepala desa pun menanggapinya dan mulai merencanakan perbaikan jalan. Namun hal itupun mungkin juga karena terpaksa, karena peristiwa aksi protes masyrakat kwangsan sudah tersebar ke berbagai media. Bahkan hingga bapak Syaifulillah, wakil gubernur Jawa Timur turun langsung untuk melihat keadaan sebenarnya. Dan ternyata setelah diselidiki, sebenarnya anggaran biaya untuk perbaikan jalan desa Kwangsan sudah ada sejak lama. Namun berdasarkan penjelasan kepala desanya sampai keadaan jalan semakin parah dan masyarakat sudah melakukan protes, anggaran tersebut belum juga cair. Sehingga penyelenggaran perbaikan jalan tidak bisa dilakukan.Selain itu anggaran yang didapatkan dari pusat juga belum penuh sehingga perbaikan pun hanya dilakukan untuk sebagian jalan. Sedangkan jalan yang lainnya dibiarkan rusak begitu saja dan hanya di tambal-tambal bagian-bagian jalan yang rusak.
Masalah pembangunan daerah yang dialami oleh masyarakat desa Kwangsan ini tentu menujukkan betapa pentingnya keterbukaan pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sehingga tidak akan memunculkan prasangka-prasangka buruk masyarakat terhadap pemerintah.

Rabu, 11 Desember 2013

ABOUT ME....


Aku.....Siapakah aku???

Entahlah. Bukan karena kita tak mengenal diri kita sendiri. Memang salah satu hal yang tak mudah bagi kita jika disuruh untuk mendeskripsikan bagaimana diri kita sesungguhnya. Mungkin hanya orang-orang disekitar kita yang tahu bagaimana kita. Karena mereka yang melihat bisa menilai diri kita misalnya dalam bertingkah laku. Namun tidak semua anggapan dan penilaiaan orang-orang di luar sana benar karena tidak sedikit dari mereka yang menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Sesungguhnya yang mengenal diri kita, ya kita sendiri.
Bagiku... diriku ini seperti burung dalam sangkar. Yang terkurung tak bisa hidup dengan bebas dan terbang dengan bebas. Terkurung tidak berarti terpuruk. Itulah perbedaan diriku dengan burung dalam sangkar. Aku tidak merasa tertekan, terkurung, terbatasi oleh keadaan. Aku bahagia dengan keadaanku yang seperti ini. Karena walaupun keadaanku yang seperti ini aku selalu merasa tak pernah kekurangan akan kasih sayang. Akupun memahami sebagaimana kodratku sebagai seorang anak perempuan yang hidup dengan batasan-batasan. Tidak boleh bermain terlalu jauh, tidak boleh pulang larut malam, tidak boleh bermain dengan sembarang orang, dan masih banyak lagi. Tapi aku sadar semua itu sebenarnya demi kebaikanku juga. Tidak ada orang tua manapun yang menginginkan terjadi hal yang buruk pada anaknya. Khususnya anak perempuan. Kadang aku merasa semua ini tidak adil. Kanapa cara memberlakukan anak laki-laki berbeda dengan  bagaimana mereka memberlakukan anak perempuannya. Sungguh tidak adilkan. Dimana anak laki-laki lebih mendapatkan kebebasan dibanding anak perempuan. Tapi semua itu hanyalah pikiran pendek. Kalau dipikir-pikir semua itu memang wajar. Karena anak laki-laki memang lebih bisa menjaga dirinya. Sama halnya dengan diriku. Dulu ketika aku masih sekolah menengah, sempat berpikir pendek. Merasa adanya ketidakadilan. Merasa terkekang. Karena saat itu, orang tuaku sangat membatasiku. Namun lambat laun semua itu sedikit berubah, dikarenakan tuntutan sekolahku yang mengharuskan aku untuk mengerjakan tugas-tugas. Dimana tugas itu harus dikerjakan di luar lapangan. Sehingga mau tidak mau orang tuaku mengijinkan aku untuk pulang malam. Namun syukurnya aku memilki teman-teman yang memahami keadaanku.
Tak semua orang paham akan diri kita. Ada kalanya orang melihat kita dari satu sisi. Begitu pula yang aku rasakan saat ini. Aku tidak mengerti akan sikap adikku yang masih sekolah menengah. Kenapa dia harus iri denganku. Memang sikap orang tuaku terhadapku berbeda terhadap yang lain. Tapi bukankah setiap orang tua pasti ingin bersikap adil terhadap anak-anaknya. Adil tak harus sama. Semua harus sesuai dengan kadarnya masing-masing. Tapi entahlah. Tak semua anak mengerti akan hal itu. Sama halnya adikku yang mungkin masih dimasa remajanya yang dimana pikiran mereka masih labil. Tapi aku masih tak habis pikir dengan ucapan-ucapannya. Setiap kali ada masalah denganku ia selalu berkata kepada orang tuaku, “ yawis belanono anak’e sing pinter dhewe iku”. Kenapa harus berkata demikian. Padahal bagiku semua itu adalah hinaan bagiku. Karena sampai saat ini, dimana usiaku yang sudah menginjak dewasa aku belum bisa membahagiakan orang tuaku. Bahkan aku semakin menjadi beban bagi mereka. Ingin rasanya mengurangi beban mereka.
Setelah lulus kuliah aku ingin segera menjadi guru. Selain bisa mengurangi beban dan membanggakan orang tua, dengan menjadi guru aku ingin ilmu yang aku dapatkan bermanfaat bagi orang disekitarku. Selain itu kelak aku berharap semua itu menjadi bekalku ketika hidup di akhirat. Dulu waktu SMK aku tidak pernah berpikir untuk menjadi guru. Aku berpikir kelak ketika aku lulus aku ingin menjadi seorang wanita karir. Namun setelah umurku semakin bertambah, akupun berpikir apalah gunanya semua itu. Apalagi jika aku sudah hidup berkeluarga. Bisa kita lihat disekitar kita banyak anak terlantar akibat orang tuanya yang sibuk mengejar karir. Akupun tak ingin seperti itu. Dengan menjadi guru, kita tetap bisa berkarir tanpa harus meninggalkan kewajiban kita sebagai seorang ibu juga sebagai seorang istri. 3 tahun kedepan setelah lulus aku ingin menikah. Setelah itu aku ingin melanjutkan pendidikan S2 ku.